Maxima Maxima Maxima Maxima
EN / ID
  • About Us
    • About Maxima
    • Maxima Impact Framework
    • Careers
  • Our Solution
    • Purpose Driven Leadership
    • Live In
    • Change Management
    • Impact Research
    • Impact Measurement
    • Impact Reporting
    • Scholarship Management
    • Community Activation
    • Ecosystem Restoration
  • Insight
    • Maxima Insight
    • Intellectual Publication
  • Projects
  • Collaborate
Maxima

Home / Insight / Blog / Konflik Dunia dan SDGs yang Memasuki Jurang Angan

Konflik Dunia dan SDGs yang Memasuki Jurang Angan

Juli 5, 2024 5 minutes reading_timeMaxima
Konflik Dunia dan SDGs yang Memasuki Jurang Angan

Jika kita tidak bertindak sekarang, Agenda 2030 akan menjadi batu nisan bagi dunia yang mungkin telah berubah.

– Antonio Guterres (Sekretaris Jenderal, Perserikatan Bangsa-Bangsa)

Jelang pertengahan tahun 2024, berbagai konflik dunia kini menjadi pusat perhatian. Salah satu yang kian menguat adalah konflik kemanusiaan. Berbagai gerakan dari para aktivis sosial dan lingkungan yang mendukung implementasi SDGs, menyuarakan aspirasinya untuk mendorong pemerintah hingga dunia untuk andil dalam pengentasan kondisi tersebut.

Sebut saja Rohingya, salah satu etnis di Myanmar yang disudutkan akibat latar belakangnya yang tidak diakui oleh pemerintah Myanmar. Bukan saja pengabaian yang terjadi, warga Rohingya bahkan diusir dari tanah Myanmar. Menurut Britannica (2024) Konflik ini masuk dalam kategori apartheid, sebuah  perlakuan berbeda terhadap Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Hal ini dikuatkan dalam laporan yang disusun oleh Amnesty Internasional (2017) yang menegaskan bahwa dari segi undang-undang, kebijakan, regulasi yang telah terjadi di Myanmar merupakan sebuah kejahatan sistematis yang ditujukan kepada warga sipil Rohingya.

Tidak berhenti disitu, konflik masih terjadi di wilayah Gaza, Palestina yang kini sudah sampai di Rafah. Kondisi yang terjadi di Palestina kini sudah menjadi keresahan dunia. Pembunuhan besar-besaran secara terencana dilakukan terang-terangan oleh Israel, tidak hanya militer Gaza yang menjadi ancaman, tetapi juga menyasar warga sipil, termasuk  ibu dan anak-anak Palestina (Republika, 2023). Menurut Francesca Albanese, pakar Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) atau United Nation (UN) menyimpulkan bahwa kondisi yang terjadi di Palestina termasuk genosida (VOA, 2024).

Konflik lain terjadi antara Rusia dan Ukraina, di mana Rusia melakukan invasi skala penuh ke kota-kota besar, salah satunya Kyiv, Ukraina. Hingga kini, konflik masih berlangsung dengan kedua belah pihak mengalami pasang surut dalam pertempuran. Ukraina terus menerima dukungan militer dari negara-negara Barat, sementara Rusia menghadapi tekanan politik dan ekonomi yang meningkat dari sanksi internasional (VOA, 2023)

Ketiga konflik tersebut memiliki benang merah, di mana terjadinya peperangan yang memiliki dampak menghancurkan, menimbulkan krisis kemanusiaan yang berkelanjutan dengan jutaan pengungsi dan kerusakan infrastruktur yang luas di lokasi konflik. Kondisi ini tidak hanya berimplikasi secara langsung pada masyarakat, tetapi juga kemunduran global dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Berikut ini adalah beberapa dampak baik secara langsung dan tidak langsung dari konflik yang tengah terjadi saat ini terhadap SDGs:

Berbagai Kerugian Akibat Peperangan

  1. SDG 1: Pengentasan Kemiskinan

    Konflik telah mengakibatkan kerusakan ekonomi yang parah di Myanmar, Palestina, hingga Ukraina, kondisi ini secara jelas meningkatkan angka kemiskinan dan mengurangi akses masyarakat terhadap sumber daya ekonomi.

  2. SDG 2: Penghapusan Kelaparan

    Perang menyebabkan gangguan pada produksi dan distribusi pangan, yang berdampak pada ketersediaan dan akses pangan.

  3. SDG 3: Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan

    Sistem kesehatan di Myanmar, Palestina, Ukraina mengalami tekanan besar karena perang, dengan fasilitas kesehatan yang rusak dan sumber daya yang terbatas untuk menangani kebutuhan medis penduduk serta pengungsi.

  4. SDG 4: Pendidikan Berkualitas

    Tidak perlu sampai mengulas kualitas pendidikan, tempat yang layak untuk melakukan proses pendidikan pun tidak ada. Peperangan sudah dipastikan berdampak pada infrastruktur pendidikan, seperti penghancuran sekolah dan perguruan tinggi, telah mengganggu pendidikan bagi banyak anak dan mahasiswa di lokasi konflik.

  5. SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi

    Kerusakan infrastruktur telah mengganggu akses terhadap air bersih dan layanan sanitasi, yang sangat penting untuk pencegahan penyakit.

  6. SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi

    Ekonomi negara yang terjadi konflik jelas terpukul, hal ini mengakibatkan kehilangan pekerjaan dan pengurangan kesempatan ekonomi bagi penduduk lokal.

  7. SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan

    Kerusakan besar pada infrastruktur kota dan perumahan mengakibatkan penurunan kualitas hidup dan keberlanjutan kota di Myanmar, Palestina, dan Ukraina.

  8. SDG 13: Tindakan Iklim

    Perang telah mengalihkan perhatian dan sumber daya dari inisiatif tindakan iklim, dan negara-negara yang melakukan operasi militer secara pasti meningkatkan emisi karbon.

  9. SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat

    Konflik melanggar prinsip perdamaian dan keadilan, dengan banyak laporan pelanggaran hak asasi manusia dan hukum internasional.

  10. SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan

    Konflik ini juga mengganggu kerja sama internasional dan kemitraan global yang diperlukan untuk mencapai SDGs secara lebih luas.

Konflik ini menggarisbawahi bahwa dampak dari peperangan sangat lah signifikan terhadap global, salah satunya ialah dampak lingkungan yang meliputi peningkatan emisi karbon dan kerusakan ekosistem yang kritis. Peperangan yang terjadi di beberapa lokasi tersebut telah menunjukkan bahwa aktivitas militer meningkatkan polusi udara dan air, serta degradasi tanah yang parah. Laporan dari International Committee of the Red Cross (ICRC) menunjukkan bahwa peperangan modern memiliki jejak karbon yang besar, yang menghambat upaya global dalam mitigasi perubahan iklim yang menjadi salah satu target utama SDG 13.

Tanpa perdamaian dan stabilitas, sulit bagi negara-negara untuk membangun fondasi yang kuat dalam mencapai SDGs lainnya, mengingat sumber daya yang seharusnya dialokasikan untuk pembangunan berkelanjutan teralihkan untuk biaya perang dan pemulihan pasca-konflik.

Rekomendasi Maxima: Pentingnya Kolaborasi Lintas Stakeholder

Sebagai konsultan dampak, Maxima berkomitmen untuk mendukung pencapaian SDGs melalui pendekatan holistik dan kolaboratif. Untuk mendukung itu, Maxima menolak secara pasti bentuk peperangan antar negara maupun dalam negara dalam aspek perang dunia, ekonomi, politik agama, hingga nuklir.

Kami percaya bahwa SDGs tidak akan tercapai tanpa adanya kolaborasi lintas stakeholder. Setiap keputusan yang diambil harus selaras dengan nilai-nilai SDGs, memastikan bahwa upaya kita bersama benar-benar memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat.

Untuk menciptakan ekosistem dunia yang sehat, perlu dirangkai kolaborasi mencakup pemerintah, sektor swasta, masyarakat, dan individu. Semua pihak harus bersinergi dalam mengatasi perubahan iklim dan mendorong perdamaian global. Maxima siap menjadi mitra strategis dalam perjalanan transformasi ini, membantu merancang dan mengimplementasikan solusi yang berkelanjutan dan inklusif.

Mari bersama-sama, kita wujudkan Indonesia yang lebih baik dan dunia yang lebih damai. Transformasi ini dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita buat hari ini, yang akan berdampak besar di masa depan. Ingin ciptakan transformasi yang inklusif sebagai landasan untuk mendukung SDGs? Konsultasikan bersama Maxima Impact Consulting dan temukan berbagai alternatif yang pas dengan organisasi Anda!

Daftar Isi
  • Berbagai Kerugian Akibat Peperangan
    • SDG 1: Pengentasan Kemiskinan
    • SDG 2: Penghapusan Kelaparan
    • SDG 3: Kesehatan yang Baik dan Kesejahteraan
    • SDG 4: Pendidikan Berkualitas
    • SDG 6: Air Bersih dan Sanitasi
    • SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi
    • SDG 11: Kota dan Komunitas Berkelanjutan
    • SDG 13: Tindakan Iklim
    • SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat
    • SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan
  • Rekomendasi Maxima: Pentingnya Kolaborasi Lintas Stakeholder
RELATED ARTICLES
  1. Bagaimana Memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Memberikan Dampak Optimal?
  2. Satgas PHK dan Strategi Perusahaan Hadapi Krisis Ketenagakerjaan
  3. Serangan Gula dan Berbagai Dampak yang Mengintai
  4. Penyebab Banjir Bekasi: Memahami Akar Masalah dan Solusi Sistemik
  5. Analisis Dampak dan Strategi Adaptasi Perubahan Kebijakan Kendaraan Listrik
Leading the Bandwagon of Transforming Indonesia
MAXIMA IMPACT CONSULTING

Lab Pela, Jl. Bambu Kuning No.285, RT.2/RW.5, Pulo, Kebayoran Baru, South Jakarta City, Jakarta 12160

Lihat Peta
Dapatkan berita terbaru dari kami

    © 2024 Maxima Impact Consulting, All Rights Reserved
    • About Us
      • About Maxima
      • Maxima Impact Framework
      • Careers
    • Our Solution
      • Purpose Driven Leadership
      • Live In
      • Change Management
      • Impact Research
      • Impact Measurement
      • Impact Reporting
      • Scholarship Management
      • Community Activation
      • Ecosystem Restoration
    • Insight
      • Maxima Insight
      • Intellectual Publication
    • Projects
    • Collaborate
    EN / ID
    Enter your
    text here
    • English
    • Bahasa Indonesia
    Login to Maxima
    Lost Password?
    Reset Password
    Enter the username or e-mail you used in your profile. A password reset link will be sent to you by email.
    Already have an account? Login
    ×