Memasuki dunia kerja yang dinamis, profesional muda sering bertanya: Apakah ambisi pribadi saya bisa berjalan seiring tujuan organisasi? Mereka ingin menjadi individu yang berkembang, sekaligus kehadirannya dapat menunjang produktivitas organisasi. Namun, konflik sering muncul antara tujuan diri dan apa yang organisasi harapkan.
Persaingan yang semakin kompetitif antar profesional muda pun kian menekan mereka untuk terus berkembang secara proaktif. Sejalan dengan Circumscription and Compromise Theory dari Gottfredson (2005) tekanan ini bukan semata-mata muncul karena dorongan pribadi, tetapi juga karena tuntutan situasi yang dihadapi.
Kondisi ini menyebabkan sebagian besar profesional muda membentuk goal setting yang tidak seimbang —terlalu fokus pada diri sendiri, terlalu tunduk pada organisasi, atau bahkan berakhir menjadi kehilangan motivasi untuk menetapkan tujuan sama sekali.
Situasi ini menjadi penanda pentingnya memahami bagaimana menyusun dan menyeimbangkan personal dan professional goals, agar bukan hanya berkembang sebagai individu, tetapi juga berkontribusi optimal dalam organisasi.
Mengacu pada Career Construction Theory dari Savickas, Social Cognitive Career Theory (SCCT) dari Lent, Brown, dan Hackett, serta Lifespan-Lifespace Theory dari Super batasan dan karakteristik profesional muda (early-career employee) umumnya:

Selain karakteristik di atas, profesional muda umumnya juga mengalami 4 tantangan utama:
Di tengah kompleksitas tantangan tersebut, profesional muda tetap dituntut untuk mengambil peran aktif dalam membentuk arah dan tujuan karier mereka. Salah satu bentuk respons terhadap tekanan eksternal dan ketidakpastian yang mereka hadapi adalah melalui proses goal setting yang tidak hanya dipengaruhi oleh tuntutan organisasi, tetapi juga oleh ekspektasi dan nilai-nilai pribadi (personal values) yang mereka bawa. Dengan kata lain, bagaimana profesional muda merumuskan tujuan —baik jangka pendek maupun jangka panjang— sangat dipengaruhi oleh cara mereka memaknai peran mereka dalam organisasi dan sejauh mana mereka merasa memiliki kendali atas perjalanan kariernya.
Tekanan dari luar dan ekspektasi pribadi yang tidak terpenuhi kerap menghasilkan strategi goal setting yang ekstrem: terlalu individualis, terlalu tunduk pada organisasi, atau bahkan nihil. Di sinilah pentingnya memahami dua dimensi dari teori Control-Value (Pekrun, 2006):

Hasilnya, terbentuk empat kondisi yang mungkin dialami:
1. Kontrol Tinggi + Makna Tinggi: Ketika Tumbuh dan Kontributif Menjadi Satu
Ini adalah kondisi ideal. Profesional muda merasa memiliki kendali atas peran dan tanggung jawabnya, sekaligus melihat bahwa pekerjaan mereka punya makna yang dalam—baik secara personal maupun bagi organisasi. Tujuan pribadi dan organisasi berjalan selaras, dan mereka terdorong untuk berkontribusi secara berkelanjutan.
Kondisi ini hanya mungkin tercipta ketika sistem organisasi menyediakan kejelasan peran, ruang pengambilan keputusan, serta dukungan dari atasan maupun rekan kerja. Hasilnya adalah profesional muda yang bukan hanya termotivasi, tetapi juga memiliki arah dan semangat untuk mencapai tujuan jangka panjang bersama organisasi.
2. Kontrol Rendah + Makna Tinggi: Ketika Semangat Tidak Bertemu Dukungan
Di sini, semangat dan keyakinan terhadap tujuan organisasi sebenarnya ada. Namun, profesional muda merasa tidak punya cukup kendali untuk mengeksekusinya. Hambatan struktural, komunikasi yang tidak efektif, atau sistem kerja yang kurang mendukung membuat proses mencapai tujuan menjadi mandek.
Mereka tahu apa yang ingin dicapai, tetapi tidak tahu bagaimana mencapainya dalam konteks organisasi. Situasi ini rentan menimbulkan frustrasi dan membuat energi positif yang seharusnya produktif menjadi tertahan.
3. Kontrol Tinggi + Makna Rendah: Ketika Bekerja Hanya Sebagai Tugas, Bukan Tujuan
Dalam kondisi ini, profesional muda mampu menjalankan pekerjaannya dengan baik. Namun, mereka tidak menemukan makna di balik apa yang mereka lakukan. Hasilnya, pekerjaan dilakukan secara mekanis dan pragmatis—sekadar memenuhi harapan, tanpa ada keterikatan emosional maupun visi jangka panjang.
Penyebabnya bisa beragam: peran yang tidak berkembang, pekerjaan yang terlalu monoton, hingga kurangnya umpan balik dan apresiasi. Profesional muda dalam situasi ini sering kali merasa stagnan meskipun tampak “berfungsi” dari luar.
4. Kontrol Rendah + Makna Rendah: Saat Energi dan Arah Sama-Sama Menghilang
Ini adalah kondisi paling kritis. Profesional muda merasa tidak punya kendali atas apa yang mereka kerjakan, dan sekaligus tidak melihat alasan mengapa pekerjaan itu penting. Reaksinya bisa berupa apatis, sekadar memenuhi batas minimum, hingga penarikan diri secara perlahan dari organisasi.
Rendahnya rasa percaya diri, kurangnya bimbingan dari rekan senior, serta tidak adanya ruang pertumbuhan menjadikan mereka kehilangan arah. Dalam jangka panjang, kondisi ini bukan hanya berdampak pada individu, tetapi juga menjadi tantangan serius bagi organisasi dalam menjaga retensi dan produktivitas talenta muda.
Keempat kondisi di atas tidak berdiri sendiri. Mereka menunjukkan bahwa untuk menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif, organisasi perlu membangun sistem yang mampu menjaga keseimbangan antara kontrol dan makna.
Bukan hanya soal memberikan tanggung jawab, tapi juga memastikan bahwa setiap individu bisa melihat alasan mengapa mereka bekerja. Dan bukan hanya tentang memotivasi secara emosional, tapi juga menyediakan struktur yang memungkinkan eksekusi berjalan efektif.
Menurut studi Paleń-Tondel & Smolbik-Jęczmień (2024), selarasnya personal values dan organizational values terbukti meningkatkan motivasi, keterlibatan, dan performa kerja. Namun, harmoni ini tidak terjadi secara otomatis. Organisasi juga harus menciptakan sistem yang mendukung high perceived control dan positive subjective value. Sejalan dengan KTM Consulting (Rebrand of Maxima), hal ini kami kerangkakan melalui dua fondasi berikut:
1. Foundational
2. Capabilities
Tidak bisa dipungkiri perjalanan menyelaraskan tujuan pribadi dan tujuan organisasi perlu dibangun (≠ bukan dipaksakan) dan menyelaraskan ≠ mengorbankan. Melalui pendekatan yang tepat, profesional muda bisa menemukan titik temu yang menguntungkan diri sendiri dan juga organisasi. Berikut adalah beberapa best practices yang bisa dicoba:
Tidak jarang profesional muda merasa kalau menyelaraskan diri dengan tujuan organisasi berarti menekan maupun mengeliminasi tujuan pribadi. Padahal, yang perlu dilakukan adalah menemukan irisan di mana kontribusi yang kamu lakukan untuk organisasi juga mendekatkanmu kepada cita-cita besar dan perencanaan karier yang ingin kamu capai.
Dengan demikian tujuan dan langkah-langkah konkrit dalam goal-settings mu juga akan menyentuh area ‘pengembangan diri’ yang terbentuk berdasarkan kebutuhan personal dan profesional saat bekerja di organisasi yang pada akhirnya membuat kamu selangkah lebih dekat dengan tujuan jangka panjang dan aspirasi karier yang ingin kamu capai.
Untuk membantu proses penyelarasan tujuan pribadi dan organisasi gunakan matriks personal-organizational fit.
Buat dua kolom, satu untuk tujuan pribadi dan satu lagi untuk tujuan organisasi. Kemudian cari aktivitas yang dapat memenuhi kedua tujuan tersebut. Dengan begitu kamu lebih bisa melihat kalau sebenarnya tujuan pribadi dan tujuan organisasi selaras.
| Tujuan Pribadi | Tujuan Organisasi |
| Meningkatkan kemampuan komunikasi | Menyampaikan presentasi internal dan eksternal dengan efektif |
| Menambah networking | Memperluas jejaring klien potensial |
| Manajemen waktu yang lebih baik | Penyelesaian proyek tepat waktu dan sesuai anggaran |
Refleksi diri secara berkala perlu dilakukan oleh profesional muda untuk memastikan kamu stay on track alias tidak kehilangan arah dan berada di jalur yang tepat untuk mencapai tujuan pribadi dan organisasi.
Metode SEAL dapat memandu proses refleksimu, membantu menganalisis situasi, kondisi, maupun tantangan yang kamu hadapi saat ini serta memantik apa yang bisa kamu lakukan untuk menghasilkan output dan impact yang lebih baik lagi.
Setiap fase kerja bisa mengubah prioritas dan perspektif. Evaluasi berkala membantu memastikan kamu tetap berada di jalur yang tepat.
Menurut Ragins dan Kram (2007), mentor yang tepat bisa menjadi katalis dalam menemukan keseimbangan antara ambisi pribadi dan ekspektasi organisasi. Mereka juga membuka jalan untuk akselerasi karier yang lebih strategis. Karena Mentor yang berpengalaman dapat memberikan wawasan praktis mengenai cara berkontribusi kepada organisasi tanpa mengabaikan tujuan pribadi hingga mengarahkan pengembangan kompetensi diri yang mendukung tujuan bersama.
Profesional muda memang dituntut proaktif dalam membentuk arah karier, tetapi sistem organisasi juga harus hadir sebagai katalisator. Ketika nilai personal dan nilai organisasi mampu berjalan beriringan, maka bukan hanya individu yang bertumbuh tetapi organisasi pun dapat bergerak lebih cepat menuju tujuannya.
Konsultasikan bersama Maxima Impact Consulting, kami membantu organisasi menciptakan ekosistem kerja yang mendukung high-performing young talent melalui pendekatan berbasis riset, framework organisasi, dan pengalaman lintas industri. Mari diskusikan solusi terbaik untuk organisasi Anda.